Om Swasti Astu
Latar Belakang
Dalam lontar Wrehaspati Tattwa menyebutkan Pelajaran Dharma meliputi : sila melaksana tingkah laku yang baik, yajna berarti melaksanakan upacara Homa (Agni Traya). Tapa berarti mengendalikan indria, tidak terikat pada obyeknya. Dana berarti member (pemberian sesuatu yang memerlukan). Pravrja berarti pandita yang melakukan puasa (pertapaan). Bhiksu berarti yang melaksanakan upacara dwijati, menjadi pandita. Yoga berarti melaksanakan meditasi. Demikianlah bentuk realisasi pengamalan dharma.
Ditegaskan kembali dalam Chanakya Nitisastra, VIII.10 :
Pelajaran Veda tanpa korban suci Agni Hotra adalah sia-sia. Korban suci tanpa disertai dana punya tidaklah sempurna. Tanpa diserta rasa bhakti semua itu tidak akan berhasil. Oleh karena itu, hal yang paling penting adalah bhakti yaitu penyebab dari segala keberhasilan.
HOMA TRAYA (AGNI HOMA) DI BALI
Pada abad XV pada pemerintahan Kerajaan Dalem Watu Renggong, Sang Raja sangat ragu akan kemampuan beliau untuk menghadapi kemampuan Raja Lombok yang diperintah oleh seorang Raja yang amat sakti yang bernama Datu Karahaengan. Setelah beliau mendapatkan pewisik agar melaksanakan upacara Homa Traya (Agni Hotra) yang telah dilaksanakan oleh para leluhur kita di Bali sebelumnya untuk kerahayuan jagat dan mendapatkan kekuatan dalam menghadapi persoalan kenegaraan. Setelah Homa Traya dilaksanakan dengan baik dan sempurna, akhirnya Dalem Watu Renggong dapat mempengaruhi politik dan ekonomi kerajaan Lombok yang dipimpin oleh Datu Kerahaengan. Selain dapat menguasai Lombok, dampak dari upacara Homa Traya adalah pada kesejahteraan dan kemakmuran serta kejayaan kerajaan dan rakyat Dalem Watu Renggong; “Gemah Ripah Loh Jinawi”.


wah langsung ikut gabung ya bro...
BalasHapussilahkan bro...terbuka untuk umum,golongan,agama,ras....
BalasHapussilahkan bergabung bersama..