Sabtu, 28 Februari 2009

HOMA TRAYA DAN PEMILIHAN UMUM APRIL 2009

Kita akan menghadapi karya besar untuk kesejahteraan Bangsa, Negara dan Rakyat Indonesia. Untuk itu dengan kekuatan Upacara Homa Traya untuk memohon kepada yang Maha Kuasa agar pelaksanaan Pemilu berjalan aman dan lancar serta hasil Pemilu akan mampu mensejahterakan masyarakat. Hal ini mengingatkan kita pada masa Pemerintahan Raja Waturenggong yang berhasil berkat melaksanakan Upacara Homa Traya dengan baik dan benar. Serta upaya kita bersama untuk meluruskan agar Bali tetap Ajeg.

SUMPAH PALAPA MAHA PATIH GAJAH MADA DAN MAHA PATIH KEBO IWA

Upacara dan nedunang pratima Maha Patih Gajah Mada dan Kebo Iwa.

Bersatunya wilayah Nusantara sebagai cikal bakal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia berkat kemampuan beliau dengan diawali dengan Sumpah Palapa “sebelum nusantara dapat dipersatukan, tidak akan amukti palapa”.

Pemilihan umum 2009 adalah merupakan upaya luhur Bangsa Indonesia dengan tujuan untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan Negara dan Bangsa Indonesia dikarenakan dalam pelaksanaannya berlandaskan pada demokrasi melalui kelompok (partai-partai politik). Dalam perjuangannya pasti akan berusaha dan berjuang untuk memenangkan kelompok masing-masing.

Maha Patih Kebo Iwa adalah sosok yang amat dihormati oleh MAha Patih Gajah Mada, seorang Bali yang satria karena keberanian, beliau mau mengalah dan berkorban dari penyatuan Nusantara. Yang seharusnya semua golongan dalam pemilihan umum nanti harus legowo artinya yang menang tidak bertepuk dada sedangkan yang kalah (belum mendapatkan kepercayaan) tidaklah berang.

Namun kita berdoa memohon kepada beliau agar pesta demokrasi (Pemilu 2009) ini berjalan dengan baik, aman dan lancar dengan hasil siapapun tidak ada yang kalah dan menang kecuali : Kesatuan dan Persatuan.

PETAPAKAN BARONG DAN RANGDA, PERANG BESAR DHARMA DAN ADHARMA DALAM METOLOGI HINDU BALI

Dengan akan turunnya petapakan Barong dan Rangda bermaksud untuk mewujudkan bahwa dalam pertempuran antara kepentingan yang memperebutkan kepercayaan rakyat yang ada dalam diri Bangsa Indomesia melalui partai-partai peserta pemilu 2009 mendapat petunjuk, tuntunan dan kekuatan positif bahwa apa yang diperjuangkan itu adalah untuk memperjuangkan dan memenangkan Dharma, memimpin bangsa ini kedepan untuk kemakmuran bangsa kita bersama dalam konsep Bhineka Tunggal Ika Ta Ana Dharma Mangrua.

Barong yang akan hadir adalah :

· 2 Barong Ket

· 2 Barong Macan

· 1 Barong Bangkung

· 1 Rangda

Bertalian dengan hal tersebut, kita akan melaksanakan Upacara Homa Traya pada:

Hari / Tanggal : Sabtu, 14 Maret 2009

Tempat : Pelataran Bajera Sandi, Renon

Waktu : pkl. 15.00 wita – selesai

Melibatkan seluruh unsur : Agama, Rohaniawan, LSM, Sekolah, Tokoh-tokoh MAsyarakat, Pejabat Pemerintahan.

Diharapkan dengan pelaksanaan Upacara ini akan mampu membawa Pemilu 2009 sukses dalam kontek Ajeg Bali.

NB : Setelah Upacara selesai tanggal 14 Maret 2009, sebagai Upacara selanjutnya adalah maatur piunung ke Luhur Uluwatu.

Sekian Terima Kasih

Om Santhy Santhy Santhy Om

Jumat, 27 Februari 2009

Bali Benar dan Salah












Konsep menunjukkan Bali salah dan Benar dalam gambar :

Uraian
WEDA : Yang turun di INDIA lalu berkembang menjadi Jaman Weda (Catur Weda)
Jaman
Upanisad : Kebenaran Weda dengan Tuhan serta Alam semesta mulai difikirkan bahkan diperdebatkan
Jaman Purana : munculnya sakti-saktinya Tuhan menjadi Tuhan dalam pemujaan
Jamam Sekte : munculnya aliran-aliran dalam pemujaan pada Tuhan
Dalam perkembangan ajaran Weda (Agama Hindu) ke Bali terjadilah evolusi yang kuat berkolaburasi dengan aliran-aliran yang berada di daerah yang dilaluinya terutama di Bali.
Perkembangan baru di Bali adalah orang-orang Bali yang memiliki kemampuan dan kemauan yang lebih mulai belajar, menelaah ajaran-ajaran Weda dari segala jaman yang datang dari India, bahkan ada yang datang langsung ke India untuk belajar yang disebut dengan Weda asli. Setelah datang dari India mereka akan membawa perubahan baru bahwa dirinya telah mendapatkan ajaran Hindu yang asli, bahkan beranggapan Bali yang salah.

Benar dan Salah
Dilihat dari sudut kebenaran ajaran Veda, Weda (Hindu) membenarkan kita melakukan ritual dengan keyakinan, cara apapun karena Fleksibelitas Weda sangatlah luas.

Contoh
Dilihat orang Bali ke India Yatra dan menambah pengetahuan serta sekolah, namun begitu melihat yang dianggap asli dan simple serta setelah kembali ke Bali dia tidak mau ke Bali yang sudah Ajeg lalu masuk ke hal-hal yang baru.
Kalau dilihat dari sudut Bali yang telah ajeg yang telah mampu membentuk jati diri dalam agama Hindu Bali yang aman dan damai, yang Bhineka Tunggal Ika dalam kontek satu wadah, jikalau kita kembali lagi kedalam celah-celah yang sempit, maka kita akan membuat kesalahan yang sangat besar, yaitu Bali akan kehilangan Bali yang asli.

Rabu, 25 Februari 2009

Maksud / Makna

Upacara yang paling sempurna dalam segala Yadnya adalah Homa Traya dan upacara ini adalah merupakan implimentasi dari upacara yang ada dalam kitab suci Veda yaitu Agni Hotra. Agama Hindu yang datang dari India sebagai tempat kelahirannya lalu berkembang dan masuk ke bali bukan merupakan ajaran agama baru atau asing, namun karena kesamaan yang ada lalu membentuk diri menjadi ajaran agama perpaduan menjadi Ajaran Agama Hindu Bali. Sehingga Agni Hotra dalam Veda yang ada di India tumbuh dan berkembang di bali dalam bentuk Homa Traya. Upacara ini telah berjalan dan dijalankan berabad-abad oleh leluhur kita di Bali dengan baik dan sempurna serta mampu membuktikan kekuatan Sucinya seperti yang dialami oleh kerajaan pada masa pemerintahan Dalem Watu Renggong.
Dalam upaya kita dibali untuk menggali dan meluruskan nilai pustaka dan pusaka leluhur agar umat hindu yang ada di bali mendapatkan kejelasan serta tuntunan yang benar di dalam menghadapi perkembangan jaman yang modern dan global. Kita harus tetap mengacu kepada ABA International, artinya : Asli Bali Alami, Asli Berubah Asli, Agama Budaya Adat dalam satu konsep Ajeg Bali dan berwawasan International artinya kita tidak akan menutup diri, tidak larut dengan perubahan serta pengaruh luar.
Marilah kita berpedoman pada nilai-nilai luhur yang telah mengajegkan Bali dari jaman ke jaman.

Selasa, 24 Februari 2009

PENGERTIAN HOMA TRAYA

Saktinya Dewa Brahma (Agni) dalam proses Upeti, Stiti, Pralina. Melebur seluruh kekuatan negative menjadi positif (Paripurna).
Dalam Kitab Stuti dan Stawa (Stawa no.154) disebutkan bahwa pengertian Homa Traya adalah Homa artinya Agni (Api) kekuatan Brahma dan Traya adalah Tiga kekuatan saktinya Brahma dalam proses Upeti, Stiti dan Pralina untuk melebur semua kekuatan negative menjadi positive (Paripurna). Agni Hotra yang dilaksanakan di India melebur diri dengan local genius, budaya adat, sikon Bali. Sehingga kekuatan Homa sangat luar biasa karena didukung oleh vibrasi local.
Agama Hindu yang bersumber dari Veda dari India dalam perkembangannya memiliki pleksibilitas yang sangat tinggi bersatu dan berkembang dengan keadaan local (Desa Kala Patra) sehingga agama Hindu justru lebih baik dan sempurna serta memiliki keampuhan yang luar biasa karena didukung oleh kekuatan local dimana agama Hindu itu berkembang. Jadi Homa Traya adalah Agni Hotra (Veda, India) melebur diri di Bali menjadilah upacara Homa Traya, bahkan dalam konteks yang lebih sederhana dilakukan dalam bentuk: Sulunggih/Pedanda mempergunakan : Padipan, Pemangku mewujudkan dalam pasepan, persembahyangan oleh Umat diwujudkan dalam dupa serta upacara-upacara lain seperti : tetimpung, api takepan. Agni Hotra (Veda, India) mewujudkan diri dalam Homa Traya Hindu Bali.

Homa Traya

Om Swasti Astu

Latar Belakang

Dalam lontar Wrehaspati Tattwa menyebutkan Pelajaran Dharma meliputi : sila melaksana tingkah laku yang baik, yajna berarti melaksanakan upacara Homa (Agni Traya). Tapa berarti mengendalikan indria, tidak terikat pada obyeknya. Dana berarti member (pemberian sesuatu yang memerlukan). Pravrja berarti pandita yang melakukan puasa (pertapaan). Bhiksu berarti yang melaksanakan upacara dwijati, menjadi pandita. Yoga berarti melaksanakan meditasi. Demikianlah bentuk realisasi pengamalan dharma.

Ditegaskan kembali dalam Chanakya Nitisastra, VIII.10 :

Pelajaran Veda tanpa korban suci Agni Hotra adalah sia-sia. Korban suci tanpa disertai dana punya tidaklah sempurna. Tanpa diserta rasa bhakti semua itu tidak akan berhasil. Oleh karena itu, hal yang paling penting adalah bhakti yaitu penyebab dari segala keberhasilan.

HOMA TRAYA (AGNI HOMA) DI BALI

Pada abad XV pada pemerintahan Kerajaan Dalem Watu Renggong, Sang Raja sangat ragu akan kemampuan beliau untuk menghadapi kemampuan Raja Lombok yang diperintah oleh seorang Raja yang amat sakti yang bernama Datu Karahaengan. Setelah beliau mendapatkan pewisik agar melaksanakan upacara Homa Traya (Agni Hotra) yang telah dilaksanakan oleh para leluhur kita di Bali sebelumnya untuk kerahayuan jagat dan mendapatkan kekuatan dalam menghadapi persoalan kenegaraan. Setelah Homa Traya dilaksanakan dengan baik dan sempurna, akhirnya Dalem Watu Renggong dapat mempengaruhi politik dan ekonomi kerajaan Lombok yang dipimpin oleh Datu Kerahaengan. Selain dapat menguasai Lombok, dampak dari upacara Homa Traya adalah pada kesejahteraan dan kemakmuran serta kejayaan kerajaan dan rakyat Dalem Watu Renggong; “Gemah Ripah Loh Jinawi”.